OUR NEWS
  • Post date: Friday, 18 December, 2015 - 08:21
    Isi:

    Mahasiswa UNY Kampus Wates ikut berpartisipasi dalam melaksanakan pendidikan politik melalui pemilihan wakil mahasiswa (pemilwa). Di UNY Kampus Wates diadakan pemilihan untuk pemilihan Ketua BEM REMA, DPM dan Ketua BEM Fakultas dan Ketua HIMA PGSD Wates, Ketua Hima PGSD Penjas dan Ketua HIMA D3 Ekonomi. Untuk Periode 2016 ini, HIMA PGSD Wates memiliki tiga kandidat yaitu Shodiq Aziz yang berhasil memperoleh raihan suara terbanyak 105 suara, disusul dengan Aan Kaligi 99 suara, dan terakhir Khanifatur Rachmah memperoleh 31 suara.

    Sedangkan untuk kandidat Ketua HIMA Penjas suara terbanyak diperoleh Sheiyawibi yang mendapatkan 62 suara dan pesaingnya Irfan Sodikin mendapat 39 suara dengan suara tidak sah berjumlah 29 suara. Menurut Ketua KPU Kampus Wates, Anis Marsinah menyampaikan bahwa tingkat partispasi dari mahasiswa PGSD Penjas untuk memilih masih cukup rendah.”Dari total jumlah pemilih 240 mahasiswa, mahasiswa yang melakukan pencoblosan hanya 130 mahasiswa dari 240 orang pemilih atau sekitar 58 %,” ungkap Anis.

    Jauh berbeda jika dibandingkan dengan partisipasi pemilih untuk Ketua HIMA D3 Ekonomi dari total 311 mahasiswa sebanyak 294 mahasiswa menggunakan hak pilihnya. Perolehan suara Ketua HIMA D3 Ekonomi terbanyak diraih oleh Abdul Halim memperoleh 88 suara, Shintya Aditya 75 suara, Tredy Agung Tahmid memperoleh 56 suara, Dimas Singarimbun 38 suara, dan terakhir Badriatus Soleha 37 suara. Disela sela kesibukannya,pengelola kampus wates, Bambang Saptono, M.Si. memberikan apresiasi atas pelaksanaan pemilwa ini. “Pemilwa ini merupakan sebuah pembelajaran politik bagi mahasiswa untuk dapat berpolitik secara santun, berkampanye secara beradab dan mampu menerima hasil baik itu menang atau pun kalah. Serta memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar demokrasi dengan menyalurkan apa yang menjadi aspirasinya,” pungkas Bambang.

  • Post date: Wednesday, 16 December, 2015 - 09:16
    Isi:

    UKKI PPG SM-3T angkatan III menyelenggarakan sekolah Pra nikah “Pribadi Muslim yang siap Menuju gerbang Pernikahan yang islami dan berberkah”  yang secara berurutan pada (14/12, 17/12, 21/12, dan 28/12) di Ruang Auditorium Lt. 4 UNY Kampus Wates. Acara ini diikuti oleh mahasiswa PPG SM-3T dan mahasiswa reguler UNY. Pada pembukaan, Kepala Pengelola UNY Kampus Wates, Bambang Saptono, M.Si. menyampaikan bahwa setiap insan manusia pasti menginginkan pernikahan yang bahagia. “Pernikahan yang bahagia bukan seberapa besar tingkat kecocokan dengan pasangan kita tetapi seberapa besar kemampuan dan kesediaan untuk mengatasi ketidakcocokan. Cinta mungkin terlihat ideal (apa yang seharusnya)  tetapi sesungguhnya pernikahanlah yang benar-benar aktual (apa adanya),” ungkap Bambang.

    “Saat seseorang mencari pasangan, harus disadari bahwa tidak ada yang manusia yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kesalahan dan kelemahan. Indahnya pernikahan justru muncul ketika menemukan pasangan yang dapat menjadi teman dalam pencarian spiritual, mitra membangun hidup dan pelipur saat saat lemah,” tambah Bambang.

    Menjaga keseimbangan antara deskripsi masing-masing peran suami dan istri tidaklah mudah. Tiap pasangan suami istri haruslah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dan memahami realitas sebelum menikah. “Hal inilah yang membuat pelatihan pra nikah menjadi sangat penting sampai dengan proses administrasi dan legalisasi nikah,” tandas Bambang.

    Dalam tausyiahnya Ustad Adi Abdilah menyampaikan bahwa seseorang yang saat akan menikah harus sehat baik secara jasmani maupun spiritual. “Sehat secara fisik saja tidak cukup tapi juga harus memiliki persiapan ruhyah atau mental yang bagus. Persiapan mental itu meliputi wawasan pernikahan yang mengacu kepada tugas dan tanggung jawanb yang harus diemban oleh seorang suami ataupun istri. Serta ilmu tentang kedamaian dan ketenangan yang merupakan tujuan dari sebuah pernikahan,”tambah Ustad Adi yang berdomisili di Kalasan.

    Selain hal tersebut, bagi seorang laki laki yang sering membuat belum siap menikah adalah tentang penghasilan untuk memberi penghidupan yang layak bagi istrinya kelak. “Mau menikah tapi hidup masih sama orang tua. Makan dan minum masih numpang orang tua. Sebagai laki-laki harus berani hidup mandiri dan mampu memberikan maisyah (sumber nafkah) bagi pasangannya.”

    “Jangan khawatir dengan kemapanan asal kita memiliki niat baik dan berusaha untuk memberikan penghidupan yang halal bagi pasangan kita Allah akan memberikan jalan rezeki yang tidak pernah kita duga,”tegas Adi.

    Sekolah pra nikah ini juga akan membahas tentang Medis Pranikah Ikhwan dan Akhwat, Perencanaan Finansial Pra dan Pasca pernikahan, Hak dan kewajiban Berumah Tangga, Psikologi dan Problematika Pernikahan, talak dan ruju’.

     

  • Post date: Friday, 13 November, 2015 - 09:15
    Isi:

    Hima D3 Ekonomi menggelar Dialog Terbuka Nasional  dengan tema ‘Pengaruh Sosial, Budaya dan Ekonomi pada masa Indonesia Ke-Kinian pada Sabtu (31/10/2015) di Auditorium UNY Kampus Wates. Acara ini menghadirkan narasumber Kelik Pelipur Lara selaku seniman dan budayawan, Awan Santosa selaku pengamat ekonomi  dan RM Astungkoro selaku Sekretaris Daerah Kulon Progo.

    “Hidup di era sekarang sulit untuk tidak terpapar oleh kecanggihan teknologi. Kita harus memiliki prinsip atau jati diri yang kuat agar tidak menjadi individu yang labil atau mudah berubah-ubah. Ikut saja kemana angin berhembus. Yang pada akhirnya akan membuat para generasi penerus ini lupa akan jati diri bangsa,” ungkap RM Astungkoro.

    “Masyarakat sekarang ini batasan norma-normanya juga sudah mulai luntur. Sekarang ini norma-norma yang dulunya ada batasannya sekarang sudah hilang dan sudah menjadi hal yang lumrah atau biasa.

    “Dan cara pandang masyarakat dalam menghadapi MEA juga terlalu berlebihan atau hiperbola . Isu MEA itu sudah berhembus mulai tahun 1997. Dan sekarang menjadi isu yang santer dan terkesan terlalu dilebih lebihkan. “

    Selaras menurut pengamat ekonomi, Awan Santosa bahwa terkesan pemerintah Indonesia masih perlu banyak berbenah mengenai perekonomian Indonesia. “ Seperti tahun ini saja pemerintah seolah  tidak berdaya dalam mengatasi keuangan nasional dalam menghadapi inflasi yang berskala global.

    Sedangkan menurut, budayawan Kelik Pelipur Lara bahwa pengaruh kemajuan teknologi mempunyai pengaruh negatif terhadap sendi sendi kehidupan bermasyarakat. “budaya gotong royong sudah mulai terkikis dan justru nilai nilai individualistis yang lebih menonjol”, ungkap Kelik.

     

  • Post date: Tuesday, 13 October, 2015 - 13:45
    Isi:

    Cabang olahraga woodball masih terdengar asing di telinga. Olahraga yang berasal dari Taiwan ini merupakan cabang olahraga baru yang masuk di Indonesia pada tahun 2006 oleh Tandiono Jacky. “Olahraga ini cocok dimainkan untuk semua kelompok usia mulai dari anak-anak sampai orang lanjut usia dan dilakukan dengan santai. Olahraga ini merupakan modifikasi dari golf yang dapat dilakukan di tanah lapang. Olahraga ini menggunakan mallet (tongkat), bola, gate (gawang kecil) dan fairway (lintasan),” jelas Dosen FIK, Erwin Setyo Kriswanto, M.Kes. pada Sosialisasi dan Pelatihan Wasit Woodball pada Sabtu—Minggu  (10—11/10/2015) di UNY Kampus Wates. Acara ini diikuti oleh sekitar 90 peserta yang terdiri dari mahasiswa FIK UNY dan guru olahraga di Kulon Progo.

    “Banyak potensi yang bisa dikembangkan dari permainan woodball ini. Karena masih tergolong baru prospek untuk menjadi pemain dan wasit profesional masih terbuka lebar.Woodball masuk DIY pada tahun 2007 dan tahun ini diikutkan dalam eksibisi pada Porda di Kulon Progo. Eksibisi ini akan dilaksanakan pada Sabtu—Senin ( 17—19/10/2015). Dan Woodball juga akan mulai dipertandingkan di PON (Pekan olahraga Nasional) tahun depan di Bandung, Jawa Barat,” lanjut Erwin.

    Pada pemateri selanjutnya oleh Wasit Nasional, Pardiyono menyampaikan bahwa woodball merupakan olahraga yang membutuhkan manajemen diri karena dibutuhkan ketenangan diri selain juga skill dan konsentrasi yang baik. “Woodball pada prinsipnya adalah memasukkan bola ke dalam gate dengan cara memukul bola dengan mallet (tongkat) dengan jumlah pukulan yang paling sedikit sampai bola masuk gate. Dan menghindari bola keluar dari batas lapangan (Out Bound/OB).

    “Sebagai wasit woodball harus memiliki stamina yang bagus karena untuk 1 kali putaran permainan bisa memakan waktu kurang lebih 2 jam. Wasit secara keseluruhan harus mampu mengarahkan dan mengelola permainan hingga berjalan lancar. Wasit akan memberikan penilaian dan signal pelanggaran kepada pemain.

    Pada sambutannya Ketua Pengelola UNY Kampus Wates, Bambang Saptono, M.Si. mengungkapkan bahwa sosialisasi dan pelatihan wasit ini merupakan bagian dari kontribusi dan komitmen UNY dalam mendukung perkembangan olahraga di Kulon Progo. “Sosialisasi ini merupakan wujud dari pengabdian kepada masyarakat dari dosen FIK UNY untuk berbagi ilmu tentang olahraga woodball. Dan pelatihan selama dua hari ini dapat memberikan pencerahan tentang woodball dan perwasitannya yang masih tergolong baru,” lanjut Bambang.

    Pada hari ke dua, para peserta pelatihan langsung praktek  perwasitan woodball. Para peserta langsung praktek mensikapi kasus yang terjadi saat pertandingan. “Hal ini untuk melatih ketegasan  dan kepercayaan diri wasit agar pada saat pertandingan dapat bertindak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. “ ujar Erwin yang juga telah mendapatkan lisensi sebagai wasit nasional woodball.

Pages