OUR NEWS
  • Post date: Friday, 26 May, 2017 - 11:01
    Isi:

    Pusat Pengembangan Karir LPPMP UNY bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kulon Progo menyelenggarakan Kulon Progo Job fair dengan tema Mengentaskan kemiskinan melalui Percepatan Penempatan Kerja di GOR UNY Kampus Wates pada Jumat-Sabtu (9-10/3). Acara job fair ini dihadiri oleh 48 perusahaan dari berbagai bidang usaha seperti garmen, retail, jasa keuangan, konveksi, perkebunan, perbankan dll. Pembukaan acara ditandai dengan pemukulan gong oleh Penjabat Bupati Kulon Progo dengan disaksikan oleh Kepala Bursa Khusus dan Swasta, Kepala BAUK, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Ketua DPRD Kulon Progo , dan juga perwakilan perusahaan.

    Dalam sambutannya, Penjabat Bupati Kulon Progo, Ir. Budi Antono, M.Si. memberikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya Kulon progo Job Fair 2017. Job fair ini merupakan jembatan penghubung antara para pencari kerja dan perusahaan untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kriteria penempatan. Munculnya banyak pengangguran salah satu karena faktor tidak seimbangnya antara kualitas dan kuantitas para pencari kerja serta pengguna/perusahaan kesulitan menempatkan pegawai sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Serta juga tidak didukungnya informasi yang memadai. “Melalui Kulon Progo Job Fair 2017 ini diharapkan akan mempercepat pertemuan antara para pencari kerja dan pengguna/perusahaan sehingga tenaga kerja yang terserap akan semakin banyak dan dapat menekan angka pengangguran, ungkap Budi Antono.

    Dalam laporan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Eko Wisnu Wardhana, SE menyampaikan Kulon Progo Job Fair ini bermaksud untuk pencari kerja memperoleh informasi secara langsung dari perusahaan sehingga perusahaan mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas dan sesuai dengan yang dibutuhkan. “Sasaran Kulon Progo Job Fair ini adalah para pencari kerja di daerah Kulon Progo, perusahaan pencari kerja, lembaga penempatan kerja swasta, bursa kerja khusus. Acara ini diikuti oleh 48 perusahaan dengan jumlah lowongan sejumlah 5078 lowongan kerja dengan spesifikasi angkatan kerja lokal sejumlah 4382 lowongan kerja, lowongan kerja antar daerah sebanyak 326 lowongan kerja dan lowongan kerja antar negara sebanyak 370 lowongan kerja, “ ungkap Eko.

    Menurut Kepala BAUK, Sukirjo, M.Pd. mewakili Rektor UNY menyampaikan bahwa acara ini sebagai ajang silaturahmi antar instansi dan pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Dengan hadirnya UNY Kampus Wates di Kulon Progo dapat bersinergi dengan kegiatan-kegiatan di Kulon progo dan dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan pembangunan di Kulon Progo.”Diharapkan di tahun-tahun mendatang kerjasama dapat berlanjut dalam berbagai aspek kegiatan dan semoga acara job fair ini dapat menjadi wahana edukasi untuk masyarakat,”imbuh Sukirjo.
    Sedangkan menurut Kepala Bursa Khusus dan swasta Kementerian Tenaga Kerja, Muji Wiyono menyampaikan menurut laporan BPS bahwa pengangguran untuk periode tahun ini berjumlah 7,03 juta yang didominasi oleh lulusan SMA. “Angka pengangguran dapat ditekan melalui kebijakan pemerintah. Seperti kebijakan pembukaan infrastrukrutur di daerah timur yang menyerap tenaga kerja. Target pemerintah adalah menempatkan 2 juta tenaga kerja tiap tahunnya dan itu bisa diserap dengan program kerja padat karya dan melalui juga job fair atau in job training yang dialokasikan di 75 lokasi SMK yang sudah Bursa Kerja Khusus (BKK). (Tusti)

  • Post date: Friday, 26 May, 2017 - 10:49
    Isi:

    Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu kebijakan pendidikan nasional untuk menghadapi tantangan global. Pendidikan yang berkualitas dapat dicapai melalui penegakan sekolah yang efektif salah satu faktor utamanya adalag guru (pendidik). Guru harus mempunyai kompetensi yang unggul dan profesional. Walaupun realitas di lapangan, profil guru masih jauh dari standart minimal seorang guru baik dari latar belakang pendidikan dan sosial, jumlah dan sebaran. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor UNY, Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd. dalam pembukaan orientasi akademik pada Sabtu (11/2/2017) di Auditorium Lantai 4 Gedung GLA UNY Kampus Wates.

    Tambahnya, menjadi guru profesional itu tidak bisa secara tiba-tiba tapi harus melalui proses. “Profesi guru adalah profesi yang menjunjung komitmen dan nilai sosial. Mempunyai komitmen yang kuat untuk menolong orang lain dan memiliki loyalitas yang tinggi. Serta tidak mudah digoyahkan oleh kepentingan materiil. Selain itu sebagai guru profesional juga memiliki rasa untuk melayani masyarakat sebagai bentuk komitmen sepanjang waktu terhadap karir serta didukung oleh pengetahuan dan ketrampilan di atas kemampuan orang pada umumnya. Sehingga para peserta PPG SM3T diharapkan selama 1 tahun disini akan ditempa baik secara akademik ataupun non akademik yang akan membentuk karakter sebagai guru profesional ” tambah Rochmat.

    Dalam laporannya, Ketua P4TKN, Drs. Suyud M.Pd. menyampaikan bahwa UNY mendapat kuota peserta PPG SM-3T angkatan V terbanyak dibanding LPTK yang lain sebanyak 374 mahasiswa. UNY mendapatkan yang paling banyak karena monitoring dan evaluasi yang baik dan diraihnya akreditasi A oleh UNY “Mahasiswa yang melakukan registrasi online sebanyak 364 mahasiswa yang terbagi menjadi 20 prodi. Sedangkan untuk asramanya, 277 mahasiswa di asrama UNY Kampus Wates dan 87 mahasiswa di Asrama UPP Bantul. ” ungkap Suyud.

    Pada materi orientasi, Ketua LPPMP, Prof. Dr. Anik Ghufron, M.Pd. menyampaikan bahwa pada tahun 2017 LPTK penyelenggara sejumlah 23 LPTK baik PTN maupun PTS dengan 26 program studi. Capaian pembelajaran PPG meliputi 4 kompetensi yaitu kepribadian, pedagogik, profesional dan sosial dengan struktur kurikulum PPG berisi workshop perangkat pembelajaran bidang studi yang mendidik disertai peer teacing dan dilanjutkan dengan PPL. “Sistem pembelajaran yang digunakan adalah dengan activ learning, workshop, PPL, dan uji kompetensi yang terdiri dari uji kinerja dan ujian tulis UTN dan UTL. Peserta lulus jika disiplin dan mengikuti semua kegiatan PPG. Menjaga etika dan kepribadian, mencapai nilai kelulusan minimal pada workshop, PPL dan uji kompetensi,” ujar Anik. Sedangkan Sekretaris LPPMP, Prof. Dr. Suwarna, M.Pd menjelaskan tentang sistem pelajaran PPL dan evaluasi PPG. “Mahasiswa PPG setelah workshop untuk membuat perangkat pembelajaran akan langsung mempraktikkan hasil perangkat pembelajaran dengan PPL di sekolah. Sekolah yang akan dtempati untuk PPL diutamakan untuk sekolah-sekolah yang telah menerapkan K-13.

  • Post date: Wednesday, 24 May, 2017 - 10:26
    Isi:

    Jathilan bagi sebagian besar masyarakat Kulon Progo bukanlah seni pertunjukan yang asing. Namun penikmat pertunjukan ini hanyalah sekedar menonton tanpa mengetahui nilai-nilai yang terkandung di pertunjukan jathilan. Generasi mudapun enggan untuk ikut menyaksikan karena dirasa kurang menarik. Ketidak-menarikan ini karena kurang maksimalnya gerakan dan para penari yang sudah berusia lanjut. Apalagi dikalangan mayarakat telah terbentuk mindset bahwa jathilan merupakan kesenian yang tidak sesuai dengan ajaran agama menurut Dr. Kuswarsantyo, M.Hum dalam Focus Grup Discussion yang diadakan pada Selasa (7/2/2017) di Balai Desa Kali Gintung dengan tema ‘Variasi Gaya Dalam Pertunjukan Jathilan dari hiburan hingga syiar agama.
    Kesenian Jathilan ‘Wahyu Turonggo” Kaligintung, Temon, Kulon progo merupakan luaran Penelitian LPDP Tahun Anggaran 2016/2017 dengan judul Pengembangan Potensi Lokal Seni Budaya (Kesenian Jathilan) Sebagai Upaya Pelestarian Kesenian Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kaligintung, Kecamatan Temon, Kulon Progo. Penelitian ini disusun oleh Dr. Kun Setyaning Astuti, M.Pd., Dr. Kuswarsantyo, M.Hum, Terry Irenewati, M.Hum, Diana Trisnawati, M.Pd.

    Tambahnya, penelitian ini merupakan sebuah gagasan untuk melestarikan kesenian Jathilan melalui pengembangan koreografi kreasi baru sehingga para generasi muda tertarik untuk mempelajari kesenian jathilan. Koregrafi yang disesuaikan dengan kemampuan fisik dan psikis generasi muda. Selain itu telah diciptakan kreasi baru dari Jathilan Raden Patah yang mengusung syiar islam. “Diceritakan Raden Patah dengan menaiki kuda bersama punggawa-punggawanya menyebarkan syiar ajaran islam yang mendapat rintangan berupa gangguan dari sekelompok orang yang berniat jahat atau juga bisa dari makhluk halus. Itu nanti yang akan kita diskusikan bersama-sama. Dan iringan yang bisa digunakan antara lain syalawatan ataupun doa doa,” Ujar Kuswarsantyo.
    “Obsesi saya adalah ingin mengubah mindset masyarakat tentang pertunjukan jathilan yang dekat dengan kesirikan menjadi jathilan yang mampu menjadi tontonan dan tuntunan masyarakat dalam hal budaya dan agama,” harap Kuswarsantyo.

    Pada kesempatan tersebut LPDP melalui LPPM memberikan hibah dana secara simbolis berupa seperangkat sound system kepada ketua Sanggar Jathilan Wahyu Turonggo, Budi. Dalam sambutannya, Ketua LPPM, Dr. Suyanto, M.Si menyampaikan ucapan terimakasih atas kerjasama dan bekerja kerasnya kepada masyarakat Kaligintung sehingga bantuan dana LPDP ini dapat terealisasi. “Konsep penelitian ini kita bangun untuk sebagai bentuk sinergisme antara perguruan tinggi dan masyarakat. Sehingga akan tercipta kemajuan masyarakat dan negara. Dan hal ini merupakan wujud dari pelestarian dan pengembangan kebudayaan,”ungkap Suyanto.

    Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Drs. Untung Waluyo menyampaikan penelitian ini diharapkan dapat melestarikan dan membangun mindset masyarakat Kulon Progo tentang kesenian pertunjukan jathilan. “Dengan dibangunnya Bandara di Kulon Progo diharapkan kesenian jathilan ini dapat dijadikan salah satu daya tarik kesenian di Kulon Progo yang dapat menarik peminat seni pertunjukan. Kesenian jathilan dapat dipoles menjadi lebih menarik tanpa meninggalkan sisi orisinalitasnya,” ungkap Untung. Dalam FGD tersebut juga diberikan tausiah oleh Kyai Warsono Agus Waluyo dari Karanganyar. Dalam tausiahnya Kyai Warsono Agus Waluyo memberikan gambaran tentang Jathilan dalam segi ajaran Islam. Serta juga ditampilkan pertunjukan jathilan oleh dua pasang penari dengan judul cerita Panji. Jathilan Wahyu Turonggo merupakan seni jathilan yang masih mengusung originalitas dengan musik pengiring yang masih original seperti masa-masa sebelumnya tanpa kolaborasi dari pengiring atau alat musik modern. Selain itu, karakteristik lain yang khas adalah topeng yang digunakan penari, salah satunya pentul dan tembem. Topeng tersebut berbeda dengan yang digunakan oleh kesenian jathilan lainnya. (Tusti)

  • Post date: Thursday, 5 January, 2017 - 08:58
    Isi:

    Mahasiswa PGSD angkatan 2013 menggelar Semarak Drama Tari sebagai bentuk tugas akhir mahasiswa yang diampu oleh Joko Pamungkas, M.Pd. pada Senin (19/12/2016) di GOR UNY Kampus Wates. Pada gelaran tersebut menampilkan 6 kelompok drama tari dengan tajuk antara lain Reksa Wana Bumi, Misteri Panci Gosong, Sisi Terang Mahawira, Gumregahing Segara, Kembang Turu Kabur Kanginan dan Berdarah Gading.

    Pada sambutannya Kajur PGSD Suparlan, M.Pd. I menyampaikan rasa bangga atas usaha keras baik dosen dan mahasiswa sehingga dapat terlaksana gelaran drama tari. Drama tari ini merupakan wujug kreativitas mahasiswa dalam bidang drama dan tari. “Mahasiswa semester akhir ini diharapkan dapat mengaplikasikan secara langung apa yang telah didapat dalam sebuah sendra tari. Tidak hanya kemampuan dalam menampilkan drama dan tari tapi juga dalam kemampuan menyelenggarakan sebuah event kegiatan. Serta diharapkan pagelaran ini dapat memotivasi dan mengasah kreativitas mahasiswa serta menjadi sarana hiburan bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar,” harap Suparlan.

    Pada penampilan kelompok 1 bertajuk Reksa Wana Bumi yang berkisah tentang betapa pentingnya untuk menjaga hutan bumi untuk keberlangsungan hidup manusia. Cerita diawali Kelompok 1 yang bercerita tentang kerusakan hutan oleh para pemburu yang membuat kijang kehabisan makanan. Kijang yang kehabisan makananan lalu menyerbu lahan pertanian milik warga. Sehingga kijang menjadi korban kemarahan para warga karena lahan pertaniannya di rusak oleh para kijang. kijang kehabisan makan dan menyerbu pemukiman warga. Kijang melihat para petani mengolah tanaman dan ketika itu para kijang menyerbu tanaman tersebut. Akhirnya bahwa kelestarian hutan akan berdampak pada hewan yg menghuni.

    Menurut Lia Izzati, pemeran penduduk desa, pada akhir pementasan menyampaikan bahwa untuk persiapan pementasan ini membutuhkan persiapan sekitar 1 bulan dari menentukan tema, konsep cerita, dialog, koreografi, musik dan juga properti. “Pementasan drama tari ini membuat kita saling bekerjasama untuk dapat menciptakan hasil karya yang kreatif dan juga inovatif. Dan tentunya juga mendapatkan nilai tugas akhir yang memuaskan, “ harap Lia.

Pages