OUR NEWS
  • Post date: Monday, 24 August, 2015 - 12:31
    Isi:

    Mahasiswa PPG SM-3T angkatan 3 melaksanakan test urine untuk tes bebas narkoba pada (24/8/2015) di Gedung Auditorium UNY Kampus Wates. Tes narkoba ini bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) DIY. Sebelumnya para mahasiswa telah mengikuti ujian tengah semester dua dan agenda test bebas narkoba dirahasiakan pelaksanaannya. “Test bebas narkoba ini merupakan bagian dari serangkaian tes yang harus dilalui oleh setiap mahasiswa PPG. Walaupun saat kita melakukan seleksi kita telah memilih calon guru yang berkarakter baik dan kita didik secara baik. Dan jauh ketertarikannya dengan narkoba.” Jelas Wakil Rektor I, Wardan Suyanto, M.Ed. dalam pembukaan tes narkoba mahasiswa PPG.

    “Yang lebih penting dari test ini selain hasil positif atau negatif adalah sebagai bentuk menyakinkan diri kita untuk menjauhi narkoba. Sebagai calon guru profesional untuk terjaga dari pengaruh narkoba. Memikirkan tentang narkoba saja tidak, apalagi untuk menyentuhnya,” tambah Wardan.

    Pada kesempatan lain, Satgas Program Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) UNY, Drs. Pujiwiyana, M.Pd. menyampaikan bahwa urgensi tes ini adalah membangun spirit untuk terbebas dari narkoba karena guru akan bersinggungan langsung dengan masyarakat. “Dan tren penyebarannya,  narkoba masuk indonesia melalui Indonesia timur karena diduga pengawasannya di sana lebih longgar. Dan tugas para calon guru ini untuk ikut berperan serta dalam menciptakan spirit masyarakat yang imun terhadap narkoba,” tambah Pujiwiyono.

    Sebelum pelaksanaan, mahasiswa PPG SM-3T mendapatkan pengarahan dari BNNP DIY tentang teknis pelaksanaan tes narkoba. Atika, tim dari BNNP DIY menyampaikan bahwa nanti proses pengambilan urine berdasarkan nomer pada daftar hadir. ”Mahasiswa mengisi formulir yang tersedia dan mengambil tabung tes urine. “Silakan untuk mengisi tabung ¼ nya saja dan jangan sampai tercampur dengan air karena hasilnya akan tidak valid,” ujar Atika.

    Menurut Atika, test narkoba ini menggunakan test kit yaitu alat untuk mendeteksi secara langsung dengan menggunakan empat parameter yaitu AMP untuk mendeteksi sabu-sabu dan ekstasi, THC untuk mendeteksi ganja, MOP untuk mendeteksi putaw dan BZO untuk mendeteksi kandungan obat penenang. “Test kit ini akan menunjukkan garis dua untuk negatif dan garis satu untuk positif,” tandas Atika.

  • Post date: Monday, 24 August, 2015 - 09:46
    Isi:

    Kesulitan guru dalam memberikan pembelajaran yang aktif dan kreatif karena guru belum mempunyai model yang tepat. Model ini yang akan dijadikan acuan bagi guru untuk memberikan sistem pembelajaran yang akan membuat peserta didik termotivasi untuk bersikap aktif dan kreatif di kelas. Melihat permasalahan tersebut, menggelitik  para dosen PGSD UNY untuk mengadakan pelatihan tentang pembelajaran aktif dan kreatif berbasis saintifik jelas Hidayati, M.Hum. selaku Ketua  PPM PGSD FIP UNY dalam Pelatihan Implementasi Pembelajaran PAKEM bagi Guru SD di Kecamatan Pengasih pada (18/8/2015) di Ruang Laboratorium Pemasaran UNY Kampus Wates. Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 25  guru SD di Kecamatan Pengasih.

    Supartinah, M.Hum selaku narasumber pelatihan ini menyampaikan bahwa guru di era sekarang berbeda dengan guru di masa lalu. Guru di masa lalu diibaratkan guru menyuapi ilmu pada anak didiknya  dan banyak ceramah. Sedangkan guru di masa sekarang guru merupakan fasilitator dan motivator. “Sudah bukan zamannnya lagi guru bersikap arogan dengan menjejali peserta didik dengan banyak ceramah. Guru yang ideal harus mempunyai mata yang lebar yang mampu melihat semua perilaku peserta didiknya, telinga yang lebar yang mampu mendengar semua keluh kesah siswanya, tangan yang besar yang mampu merangkul semua peserta didiknya dan mulut yang besar untuk berkata tentang hal-hal yang baik,” tandasnya.

    “Seorang anak itu mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Melatih anak untuk menjadi aktif dan kreatif dimulai dengan anak diajak untuk mengamati dan bertanya. Biasakan anak untuk tidak hanya belajar membaca, melihat, mendengar tapi libatkan dalam diskusi, melakukan simulasi atau mengerjakan dalam hal nyata. Anak akan cenderung lebih mudah mengingat, ” jelas Supartinah.

    Tambah Supartinah, metode PAKEM merupakan sistem pembelajaran yang melingkupi apsek aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Model pembelajaran ini mengajak siswa untuk aktif mengamati, diskusi, ataupun melakukan simulasi.  Siswa juga diajak untuk berjiwa kreatif untuk menghasilkan karya yang berbeda. Guru juga mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah. Pembelajaran juga harus efektif sehingga tercapai tujuan pembelajaran.  Serta guru menggunakan alat bantu pembelajaran untuk membantu meningkatkan semangat belajar siswa.

    “Tak kalah pentingnya untuk menciptakan ruangan kelas yang tidak monoton. Kelas bisa ditata menjadi lebih menarik, literat dengan tidak membiarkan dinding kelas kosong. Dinding kelas dapat digunakan sebagai ajang menampilkan karya siswa. Juga pojok kelas dapat difungsikan untuk  pojok baca,”tandas Supartinah.

    Pada pembukaan kegiatan Ketua Pengelola UNY Kampus Wates, Bambang Saptono, M.Si. menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari kontribusi UNY Kampus Wates dalam upaya mengembangkan sistem pembelajaran kreatif  bagi peserta didik. “Semoga pelatihan ini dapat bermanfaat dan memberikan model baru dalam proses pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan,” jelas Bambang.

    Pada pelatihan ini para guru diputarkan video tentang pembelajaran kemudian para guru berdiskusi dan mengerjakan lembar kerja. Diakhir sesi para guru diminta untuk mengumpulkan RPP yang mencantumkan tentang pembelajaran aktif  dan kreatif.

  • Post date: Friday, 21 August, 2015 - 08:42
    Isi:

    Sebagai sebuah institusi pendidikan UNY memiliki sebuah komitmen dalam memberikan pelayanan kepada stakeholder baik internal maupun eksternal. Pelayanan yang baik akan meningkatkan citra positif terhadap institusi. Institusi yang memiliki citra yang baik dimata masyarakat akan meningkatkan kepercayaan masyarakat, memberdayakan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Isroah, M.Si., Sekretaris Bidang I UNY Kampus Wates pada sesi pertama dalam acara Pelatihan Pelayanan Prima pada (18—19/8/2015) di Kopeng, Salatiga.

    Lanjut Isroah, dalam memberikan sebuah pelayanan harus memperhatikan hal-hal yang dapat membangun citra positif  yakni pelayanan yang sangat baik atau terbaik sesuai dengan standar yang berlaku di institusi. Proses dalam memberikan pelayanan pada dasarnya merupakan kegiatan yang ditawarkan oleh sebuah institusi kepada konsumen yang bersifat tidak berwujud. “Dengan kita memberikan pelayanan yang terbaik untuk konsumen akan menaikkan kepuasan konsumen terhadap UNY.”

    “Kita masing- masing mempunyai konsumen karena kita adalah pemberi layanan bagi pihak lain. Tapi, kita masing-masing juga menjadi konsumen yang memerlukan layanan dari pihak lain. Pemahaman posisi dan kesadaran diri akan dapat meningkatkan kinerja layanan,” lanjut Isroah.

    Dalam membangun citra positif diri dengan selalu memperhatikan kesan awal dengan melakukan kontak mata pada saat bicara, tersenyum pada saat yang tepat, selalu tampilkan wajah gembira, dan bersikap ramah. Selain itu juga berbicara dengan lafal yang jelas dan pilihan kata yang mudah dipahami.

    Pada sambutan pembukaan yang disampaikan oleh Ketua Pengelola UNY Kampus Wates, Bambang Saptono, M.Si. bahwa kegiatan pelatihan ini selain untuk mempererat dan mengakrabkan antar  karyawan juga untuk meningkatkan wawasan, kepribadian dan etika kerja agar para karyawan mampu  melaksanakan tugas sesuai dengan perannya. “Acara ini juga memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menyampaikan saran dan kritik kepada kami sebagai pengelola sehingga dapat menjadi masukan untuk pengembangan UNY Kampus Wates lebih baik lagi,“ imbuh Bambang.

    Pada sesi selanjutnya acara diisi dengan permainan untuk meningkatkan kekompakan para karyawan. Sesi ini dipandu oleh Sekretaris bidang II, Dapan, M.Kes. Para peserta dibagi dua kelompok dan saling berpasangan. Para peserta akan mendapatkan ‘lintingan’ kertas yang harus dikerjakan oleh pasangan tersebut. Semisal Alfa yang berkesempatan mengambil ‘lintingan’ tersebut mendapatkan tugas untuk mengeluh. “ Hanya satu kata yang  yang bisa saya ucapkan jaraknya jauh, ”ungkap Alfa yang menglaju dari Sleman ke UNY Kampus Wates. Acara ini berlangsung meriah dengan pembagian doorprize. Pada hari kedua acara dilanjutkan dengan outdoor activity dengan mengelilingi kawasan wisata Kopeng.

  • Post date: Thursday, 30 July, 2015 - 09:16
    Isi:

    Mahasiswa PPG SM-3T angkatan III telah menyelesaikan workshop pembelajaran dan akan memasuki tahapan berikutnya yaitu PPL. Sebelum PPL diadakan Pembekalan PPL PPG SM-3T dibawah koordinasi LPPMP pada (6-7/7/2015) di Auditorium UNY Wates.  Pada pembukaan  Kepala Pengelola UNY Kampus Wates, Bambang Saptono, M.Si. menyampaikan bahwa PPL ini merupakan tahapan selanjutnya dalam pembinaan sebagai guru profesional. PPL merupakan praktek dari akumulasi pembelajaran yang telah ditempuh oleh mahasiswa PPG selama 4 bulan ini.

    Dalam PPL mengakomodir  semua kompetensi baik dari segi akademik, pedagogik, sosial dan kepribadian. “ Selama workshop, mahasiswa telah dibekali kompetensi akademik dan pedagogik sedangkan sosial dan kepribadian nanti akan terasah pada saat PPL.” Imbuh Bambang.Selama menjalankan PPL mahasiswa akan diberi tanda pengenal selayaknya dosen/pegawai UNY jadi  selalu senantiasa  menjaga nama baik UNY di baik di sekolah ataupun dimasyarakat.

    Pada pembekalan yang diselenggarakan selama 2 hari ini dipaparkan tentang praktik lapangan PPL, etika profesi dan praktik pengalaman PPL.  Kepala P4TKN Drs. Suyud, M.Pd, menyampaikan bahwa PPL melingkupi tentang praktik mengajar baik perencanaaan ataupun pelaksanaan, praktek non mengajar atau praktik persekolahan, pengembangan kompetensi pribadi dan sosial serta  pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas.

    “Sosok guru profesional tidak hanya  mengelola kelas secara fisik tapi lebih kepada psikis para peserta didik. Guru harus mampu memotivasi peserta didiknya agar tetap mempunyai semangat belajar. Dan guru sekarang masih minim untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Saat ada  permasalahan yang dihadapi di kelas dapat dicari pemecahannya dan dilakukan action reseach  ang kemudian dapat dibuat penelitian tindakan kelas.”

    Pada kesempatan lain, Prof. Wawan S. Suherman, M.Ed. memaparkan tentang guru sebagai sebuah panggilan jiwa bahwa selain melaksanakan tugas secara profesional menjadi guru merupakan pelaksanaan komitmen pribadi karena panggilan jiwa.” Dan panggilan jiwa ini tidak bisa terlepas dari rasa kasih sayang terhadap muridnya. Dan ruh dari pendidikan adalah kasih sayang. Dan jika sampai guru kehilangan kasih sayang terhadap muridnya maka hilanglah jati diri pendidikan.”tambahnya.

    Pada hari kedua, Drs. Eko Widodo menyampaikan tentang praktik dan permasalahan yang sering ditemui pada saat PPL. Program PPL ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar tentang mengajar dan melatih serta mengembangkan kompetensi mengajar yang diperlukan dalam bidangnya. Selain juga untuk meningkatkan ketrampilan,kemandirian, tanggung jawab dan kemampuan dalam memecahkan masalah pembelajaran.

    “Pada saat PPL akan muncul berbagai permasalahan baik bersifat kepribadian, akademik, sosial, maupun teknis di lapangan. Masalah kepribadian semisal mahasiswa tidak mantap dan belum mampu untuk mengevaluasi kinerja sendiri serta belum bisa menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

    “Masalah akdemik berkaitan dari awal rancangan program PPL yang tidak sesuai dengan permasalahan ataupun potensi di sekolah dan pada saat pelaksanaan terkadang tidak tepat waktu dan tidak melakukan refeleksi terhadap kegiatan yang dilakukan. Belum lagi jika mahasiswa memiliki permasalahan sosial yakni belum bisa secara efektif dan santun bergaul dengan peserta didik ataupun sesama pendidik,” imbuhnya

Pages