OUR NEWS
  • Post date: Monday, 7 September, 2015 - 09:20
    Isi:

    Sebanyak 30 pelaku UMKM di lingkungan UNY Kampus Wates mendapatkan pelatihan tentang pengembangan usaha dan strategi pemasaran untuk usaha yang sedang dirintis. Pelatihan ini memfokuskan tentang perubahan pola pikir dan sikap tentang kewirausahaan.

    Ketua Tim pengabdi PPM FE UNY, Isroah, M.Si. mengatakan dengan akan dibangunnya calon bandara, Kulon Progo tidak lama lagi akan menjadi target sasaran para investor. “Jangan sampai makanan khas Kulon Progo seperti gebleg dan growol justru dikelola oleh pihak luar bukan oleh penduduk asli. Para pelaku UMKM harus memiliki motivasi untuk terus berinovasi sehingga produknya akan selalu ada dan terus berkembang,” ungkap Isroah pada pembukaan Pelatihan Kewirausahaan bagi pelaku UMKM di Lingkungan UNY Kampus Wates pada Selasa (2/9/2015) di Laboratorium Pemasaran UNY Kampus Wates.

    Dalam paparannya Isroah juga mengatakan bahwa pelatihan ini akan memunculkan ide ide baru dan kreativitas dalam mengembangkan usaha. Salah satu cara dalam mengembangkan usaha yakni dengan promosi yang tepat sasaran. “Promosi yang tepat akan meningkatkan penjualan dengan  menggaet target-target yang potensial serta juga  untuk menjaga loyalitas konsumen. Promosi dapat dilakukan melalui hal yang sederhana dengan metode ‘Getok tular’ atau  ‘icip - icip’ langsung.  Atau di era teknologi dapat juga melalui iklan via telepon seluler, email ataupun media sosial,” tambah Isroah.

    Pemapar selanjutnya, Endra Murti Sagoro, M.Sc. mengungkapkan bahwa berdagang itu tidak sama dengan berwirausaha. Dalam berwirausaha itu ada sebuah sistem yang dibangun. “Kalau berdagang itu hanya ada istilah hari ini. Berdagang itu tidak hanya untuk kita tapi juga untuk diwariskan kepada anak cucu kita. Berwirausaha itu telah memiliki pola manajemen yang baik.” Ungkapnya.

    “Modal itu adalah hal yang pertama tapi bukan yang utama. Yang utama adalah keinginanan dan cita-cita. Modal dan keahlian bisa dicari tapi cita-cita dan semangat adalah suatu hal yang tak terbeli. Setiap kita harus mempunyai mimpi atau cita-cita yang akan dicapai setelah itu terus kembangkan kreativitas, “ ungkap Endra.

    Lanjut Endra, pelatihan ini ditujukan untuk mencoba membuka pikiran dan wawasan para pelaku UMKM untuk tidak berhenti bermimpi. “ Bagi bapak ibu kalau hanya sekedar untuk memiliki usaha mie ayam, bakso, es buah, sembako tidak usah ikut pelatihan ini. Kita ingin mengubah mind set bahwa kita bisa untuk membuka bakso dengan 10 cabang, es buah 7 cabang dsb. Dan Hal itu dibutuhkan kekreatifan, tekad kuat, dan tahan uji,” tandas Endra.

    Pada pelatihan ini juga dibagikan formulir perencanaan usaha yang harus diisi oleh masing-masing peserta. Formulir berisi tentang rencana usaha yang telah atau akan dilakukan oleh para peserta. Nantinya dari Tim PPM FE UNY akan memantau keberlanjutan usaha tersebut.

  • Post date: Thursday, 3 September, 2015 - 09:26
    Isi:

    Standart isi pembelajaran pada era sekarang tidak hanya mempertimbangkan aspek knowledge semata, tapi aspek afektif dan skill juga menjadi bahan pertimbangan dalam penilaian. “Ada mahasiswa mendapat nilai bagus tapi skillnya buruk jangan harap mendapatkan nilai baik.” Ungkap Wakil Dekan I FE, Nurhadi, MM dalam Workshop Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester  pada Selasa (25/8/2015) di Laboratorium Pemasaran UNY Kampus Wates. Acara ini dihadiri oleh Kepala Prodi dan dosen pengampu mata kuliah DIII Ekonomi FE UNY.

    Lanjut Nurhadi,  Standart Kompetensi Lulusan merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi lulusan yang mencakup aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran. Dan dalam pengembangan capaian pembelajaran diawali dengan  mencari peran yang akan dihasilkan dari lulusan prodi dan akan dirumuskan menjadi profil lulusan prodi. Dari profil lulusan prodi dapat dijabarkan kemampuan yang perlu dikuasai agar dapat berperan di masyarakat yang kemudian dapat dirumuskan menjadi Learning Outcomes Prodi. Dari Learning Outcomes Prodi sudah dapat ditentukan mata kuliahnya.

    “Dalam merancang rumusan mata kuliah berdasarkan  pada hal – hal yang bersifat spesific  mampu menggambarkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap/perilaku dengan jelas. Measurable, mempunyai target atau hasil yang dapat diukur sehingga dapat dicapai oleh mahasiswa. Achievable, kemampuan yang dirancang dan dapat dicapai oleh sebagaian besar mahasiswa. Realistic, kemampuan yang dirancang merupakan sesuatu yang wajar dan Time Bound, kemampuan mahasiswa menyelesaikan kegiatan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. “ tambah Nurhadi.

    “Para mahasiswa dalam pengalaman belajarnya  menggunakan model learning activites seperti berdiskusi, menelusur referensi, mewawancari narasumber, melakukan pengamatan dan atau melakukan kegiatan-kegiatan belajar termasuk mengerjakan tugas-tugas belajar,” tambah Nurhadi.

    Dalam pembukaan workshop, Sekretaris Bidang I, Isroah, M.Si.  menyampaikan bahwa workshop ini sebagai tindak lanjut dari workshop yang telah diselenggarakan di fakultas. “ Workshop ini juga sebagai ajang tanya jawab bagi para dosen untuk lebih memantapkan tentang rencana pembelajaran yang disusun. Untuk lebih gamblang lagi tentang perbedaan tentang S1 dan vokasi,” jelas Isroah

  • Post date: Monday, 24 August, 2015 - 12:31
    Isi:

    Mahasiswa PPG SM-3T angkatan 3 melaksanakan test urine untuk tes bebas narkoba pada (24/8/2015) di Gedung Auditorium UNY Kampus Wates. Tes narkoba ini bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) DIY. Sebelumnya para mahasiswa telah mengikuti ujian tengah semester dua dan agenda test bebas narkoba dirahasiakan pelaksanaannya. “Test bebas narkoba ini merupakan bagian dari serangkaian tes yang harus dilalui oleh setiap mahasiswa PPG. Walaupun saat kita melakukan seleksi kita telah memilih calon guru yang berkarakter baik dan kita didik secara baik. Dan jauh ketertarikannya dengan narkoba.” Jelas Wakil Rektor I, Wardan Suyanto, M.Ed. dalam pembukaan tes narkoba mahasiswa PPG.

    “Yang lebih penting dari test ini selain hasil positif atau negatif adalah sebagai bentuk menyakinkan diri kita untuk menjauhi narkoba. Sebagai calon guru profesional untuk terjaga dari pengaruh narkoba. Memikirkan tentang narkoba saja tidak, apalagi untuk menyentuhnya,” tambah Wardan.

    Pada kesempatan lain, Satgas Program Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) UNY, Drs. Pujiwiyana, M.Pd. menyampaikan bahwa urgensi tes ini adalah membangun spirit untuk terbebas dari narkoba karena guru akan bersinggungan langsung dengan masyarakat. “Dan tren penyebarannya,  narkoba masuk indonesia melalui Indonesia timur karena diduga pengawasannya di sana lebih longgar. Dan tugas para calon guru ini untuk ikut berperan serta dalam menciptakan spirit masyarakat yang imun terhadap narkoba,” tambah Pujiwiyono.

    Sebelum pelaksanaan, mahasiswa PPG SM-3T mendapatkan pengarahan dari BNNP DIY tentang teknis pelaksanaan tes narkoba. Atika, tim dari BNNP DIY menyampaikan bahwa nanti proses pengambilan urine berdasarkan nomer pada daftar hadir. ”Mahasiswa mengisi formulir yang tersedia dan mengambil tabung tes urine. “Silakan untuk mengisi tabung ¼ nya saja dan jangan sampai tercampur dengan air karena hasilnya akan tidak valid,” ujar Atika.

    Menurut Atika, test narkoba ini menggunakan test kit yaitu alat untuk mendeteksi secara langsung dengan menggunakan empat parameter yaitu AMP untuk mendeteksi sabu-sabu dan ekstasi, THC untuk mendeteksi ganja, MOP untuk mendeteksi putaw dan BZO untuk mendeteksi kandungan obat penenang. “Test kit ini akan menunjukkan garis dua untuk negatif dan garis satu untuk positif,” tandas Atika.

  • Post date: Monday, 24 August, 2015 - 09:46
    Isi:

    Kesulitan guru dalam memberikan pembelajaran yang aktif dan kreatif karena guru belum mempunyai model yang tepat. Model ini yang akan dijadikan acuan bagi guru untuk memberikan sistem pembelajaran yang akan membuat peserta didik termotivasi untuk bersikap aktif dan kreatif di kelas. Melihat permasalahan tersebut, menggelitik  para dosen PGSD UNY untuk mengadakan pelatihan tentang pembelajaran aktif dan kreatif berbasis saintifik jelas Hidayati, M.Hum. selaku Ketua  PPM PGSD FIP UNY dalam Pelatihan Implementasi Pembelajaran PAKEM bagi Guru SD di Kecamatan Pengasih pada (18/8/2015) di Ruang Laboratorium Pemasaran UNY Kampus Wates. Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 25  guru SD di Kecamatan Pengasih.

    Supartinah, M.Hum selaku narasumber pelatihan ini menyampaikan bahwa guru di era sekarang berbeda dengan guru di masa lalu. Guru di masa lalu diibaratkan guru menyuapi ilmu pada anak didiknya  dan banyak ceramah. Sedangkan guru di masa sekarang guru merupakan fasilitator dan motivator. “Sudah bukan zamannnya lagi guru bersikap arogan dengan menjejali peserta didik dengan banyak ceramah. Guru yang ideal harus mempunyai mata yang lebar yang mampu melihat semua perilaku peserta didiknya, telinga yang lebar yang mampu mendengar semua keluh kesah siswanya, tangan yang besar yang mampu merangkul semua peserta didiknya dan mulut yang besar untuk berkata tentang hal-hal yang baik,” tandasnya.

    “Seorang anak itu mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Melatih anak untuk menjadi aktif dan kreatif dimulai dengan anak diajak untuk mengamati dan bertanya. Biasakan anak untuk tidak hanya belajar membaca, melihat, mendengar tapi libatkan dalam diskusi, melakukan simulasi atau mengerjakan dalam hal nyata. Anak akan cenderung lebih mudah mengingat, ” jelas Supartinah.

    Tambah Supartinah, metode PAKEM merupakan sistem pembelajaran yang melingkupi apsek aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Model pembelajaran ini mengajak siswa untuk aktif mengamati, diskusi, ataupun melakukan simulasi.  Siswa juga diajak untuk berjiwa kreatif untuk menghasilkan karya yang berbeda. Guru juga mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah. Pembelajaran juga harus efektif sehingga tercapai tujuan pembelajaran.  Serta guru menggunakan alat bantu pembelajaran untuk membantu meningkatkan semangat belajar siswa.

    “Tak kalah pentingnya untuk menciptakan ruangan kelas yang tidak monoton. Kelas bisa ditata menjadi lebih menarik, literat dengan tidak membiarkan dinding kelas kosong. Dinding kelas dapat digunakan sebagai ajang menampilkan karya siswa. Juga pojok kelas dapat difungsikan untuk  pojok baca,”tandas Supartinah.

    Pada pembukaan kegiatan Ketua Pengelola UNY Kampus Wates, Bambang Saptono, M.Si. menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari kontribusi UNY Kampus Wates dalam upaya mengembangkan sistem pembelajaran kreatif  bagi peserta didik. “Semoga pelatihan ini dapat bermanfaat dan memberikan model baru dalam proses pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan,” jelas Bambang.

    Pada pelatihan ini para guru diputarkan video tentang pembelajaran kemudian para guru berdiskusi dan mengerjakan lembar kerja. Diakhir sesi para guru diminta untuk mengumpulkan RPP yang mencantumkan tentang pembelajaran aktif  dan kreatif.

Pages