OUR NEWS
  • Post date: Tuesday, 26 May, 2015 - 11:30
    Isi:

    Rombongan anggota senat FIP Komisi C UNY berkunjung ke UNY Kampus Wates pada (22/5/2015). Kunjungan ke UNY Kampus Wates ini dikhususkan untuk melihat dan mengobservasi Asrama dan Hima Kampus Wates.  Di awal kedatangan ombongan yang berjumlah 10 orang ini langsung melihat proses pembelajaran dan workshop PPG SM-3T prodi Pendidikan Luar Biasa FIP. Para anggota senat juga sempat berdialog langsung dengan para mahasiswa.

    Bambang Saptono, M.Si., selaku pengelola Kampus Wates menyampaikan kunjungan ini sebagai wadah observasi agar rusunawa dan Hima Wates dapat terus berkembang menjadi lebih baik lagi. “Semoga para anggota komisi C ini dapat memberi masukan-masukan yang dapat memajukan rusunawa.”ungkap Bambang.

    Bambang menjelaskan bahwa idealnya asrama harus dekat dengan kampus. Mahasiswa di kampus wates ini relatif dekat untuk menuju kampus. Pendidikan tidak hanya di kampus tapi asrama pun merupakan sebuah proses pendidikan.“Pendidikan berasrama dimulai dari kegiatan yang paling sepele yaitu makan bersama. Makan bersama akan menumbuhkan rasa kebersamaan, solidaritas  dan juga kedisiplinan, tambah Bambang.

    “Dengan melalui pendidikan berasrama mahasiswa akan dilatih untuk mempunyai karakter yang disiplin dan tertib. Kita memiliki buku panduan tentang tata tertib dan sanksi administrasi jika ada penghuni asrama yang melanggar. Kita akan memberikan sanksi kepada penghuni asrama yang melanggar untuk memberikan efek jera terhadap penghuni lain agar tidak terulang lagi. “

    Pada kesempatan tersebut juga disampaikan beberapa masukan oleh Dr. Cepi Safrudin Abdul Jahar untuk memberikan nuansa jogja disetiap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Karena nuansa Jogja ini akan memberikan kesan dan pengalaman  bagi setiap individu penghuni asrama. “Tapi tetap juga karena ini multi etnis sebaiknya ada satu event yang menampilkan kebudayaan baik berupa bahasa, makanan dari setiap wilayah dari para penghuni asrama. Hal ini akan menumbuhkan rasa memiliki dan mencintai terhadap kebudayaan nusantara. “ tambah Cepi.

    Acara diakhiri dengan rombongan mengunjungi secara langsung lingkungan dan sarana prasarana asrama putri maupun putra.

     

     

  • Post date: Monday, 25 May, 2015 - 14:51
    Isi:

    Skripsi selalu menjadi momok bagi mahasiswa semester akhir. Tidak jarang mahasiswa harus kena sanksi drop out karena tidak bisa menyelesaikan skripsi. Jurusan PGSD Penjas menyelenggarakan Seminar Percepatan Studi untuk angkatan 2011 pada Selasa (19/5/2015) di Ruang Seminar Lantai 4 Gedung Layanan Akademik UNY Kampus Wates.  Kaprodi PGSD Penjas, Sriawan, M.Kes menyampaikan bahwa skripsi merupakan masa-masa sulit yang harus dilalui setiap mahasiswa. Skripsi juga merupakan seni dalam proses pendewasaan diri. Sebagai proses pendewasaan tentu ada yang pahit dan indah. “Dan fase pahit dan indah itu yang harus kalian bisa lalui.” ungkap Sriawan.

    Sriawan, M.Kes juga menyampaikan bahwa dari 52 mahasiswa yang saya undang, terdapat 7 mahasiswa yang sudah mendaftar untuk ujian. Dan ini semoga menjadi motivasi bagi  mahasiswa yang lain untuk segera dapat merampungkan skripsi. “Saya sebagai orang tua kalian disini mempunyai tanggung jawab untuk selalu mengingatkan dan memberi motivasi agar kalian dapat segera menyelesaikan kuliah. Jangan sampai ada yang ‘tercecer’.” tambah Sriawan.

    Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Bidang I, Isroah, M.Si. menyampaikan motivasi bahwa setiap mahasiswa harus mempunyai target dalam menyelesaikan kuliah.  Dan pertemuan semacam ini dapat memberikan suntikan motivasi diri untuk dapat mencapai target tersebut. “ Dan semester ini merupakan semester 8. Jangan sampai Anda menempuh 8 plus. Harus ada percepatan.  Harus berlari lebih cepat lagi. “

    “Dan bagi mahasiswa yang ada di ruangan ini antara satu dengan yang lain harus kompak. Harus saling memotivasi dan mengingatkan. Bulatkan tekad dan kedisiplinan. Kalian pasti bisa, pungkas Isroah” Pertemuan ini dilanjutkan dengan laporan perkembangan skripsi dari masing-masing mahasiswa.

     

  • Post date: Tuesday, 19 May, 2015 - 10:52
    Isi:

    HIMA DIII FE UNY menggelar acara Colour Run and Fun pada minggu (17/5/2015) di Lapangan Sepak bola UNY Kampus Wates.  Acara ini diikuti oleh 800 peserta dari mahasiswa, pelajar dan masyarakat sekitar. Peserta lari dilepas oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olahraga Kulon Progo Drs. Krissutanto bersama Kepala Pengelola UNY Kampus Wates, Bambang Saptono, M.Si.  

    Pada sambutannya Kepala Pengelola UNY Kampus Wates, Bambang Saptono, M.Si. menyampaikan bahwa UNY Kampus Wates berkomitmen untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakat luas baik dibidang olahraga, akademik maupun sprititualitas. “Colour Run and Fun ini sebagai sebuah gaya hidup sehat yang mencoba menawarkan bahwa olahraga lari sebagai olahraga yang penuh dengan warna keceriaan,” tambah Bambang.

    Pada acara pembukaan, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olahraga Kulon Progo, Drs. Krissutanto  menyampaikan apresiasi dan dukungan yang tinggi terhadap acara Colour Run and Fun ini. Acara olahraga yang terbilang masih baru ini akan memberikan nuansa kebahagiaan dengan para peserta berlari dan ditaburi bubuk berwarna yang memberi kesan pelangi sebagai sebuah  simbol dari semangat. “ Tapi tetap tidak lupa untuk tetap waspada dalam penggunaan bubuk berwarna agar tidak membahayakan diri sendiri atau  pun orang lain.” imbuh Krissutanto.

    Para peserta Colour Run and Fun ini akan menempuh jarak sejauh 3 km. Selama lari ini para peserta akan ditaburi dengan bubuk berwarna dan air pada setiap pos-pos yang disediakan oleh panitia. Setelah acara lari para peserta berkumpul di lapangan UNY wates untuk saling menabur bubuk warna sambil diiringi alunan musik. Di sela-sela acara tersebut, para peserta juga mendapatkan doorprize dari panitia.

     

  • Post date: Friday, 15 May, 2015 - 10:18
    Isi:

    Dyah Ayu Intan, mahasiswa PGSD UNY usai mengikuti Youth Adventure dan Youth Leaders Forum yang digelar pada 23  April-4 Mei 2015. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Gerakan Mari Berbagi  (Yayasan GMB) yang diinisiatori oleh Azwar Hasan. Yayasan Gerakan Mari Berbagi merupakan gerakan yang mendorong pengarusutamaan sikap dan nilai berbagi dalam kehidupan sehari-hari dan hidup melampaui kepentingan diri (living beyond Yourself).

    Menurut Dyah usai kegiatan,peserta yang mendaftar kegiatan ini berjumlah lima ratus calon peserta. Kemudian diadakan seleksi berkas dan  meloloskan 140 peserta yang melanjutkan ke sesi wawancara.  Dari seleksi wawancara terpilih 55 peserta yang berasal dari berbagai kota untuk mengikuti Youth Adventure dan Youth Leaders Forum.

    Youth Adventure merupakan kegiatan ziarah diri yang setiap peserta dikelompokkan berdasar perbedaan agama dan suku dan melakukan perjalanan dari Semarang-Cibubur dengan dibekali Rp 100.000/orang. Satu kelompok terdiri dari 3-4 orang. Dan selama perjalanan tidak boleh menggunakan uang pribadi. Selama perjalanan tersebut setiap kelompok diwajibkan melakukan pengabdian di kota yang disinggahi. Kelompok saya singgah di Semarang dan Brebes. Sasaran pengabdian tidak terbatas pada usia dan perbedaan. “Jelas Dyah.

    Mahasiswa PGSD angkatan 2012 ini menambahkan rangkaian acara setelah Youth Adventure adalah Youth Leaders Forum yang para peserta ditemukan dengan orang-orang sukses baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk berbagi ilmu dan mensupport kegiatan.

    “Pada saat saya mendaftarkan GMB ini saya memiliki proyek sosial Gerakan Mari Berbagi One School One Book. Dan selama kegiatan ini, saya mendapat masukan untuk menggantinya menjadi Gerakan Mari Berbagi, Ayo Menulis. Gerakan ini mengajak para peserta didik untuk berlatih menulis kegiatan sehari-hari di buku diari. Ini akan mengajak peserta didik untuk terbiasa menulis.”ungkap Dyah.

    “Setiap peserta wajib untuk menepati janji menjalankan proyek sosial yang akan didukung dan difasilitasi oleh Board Member. Setiap GMB pun mempunyai proyek sosial masing-masing yang bertujuan membantu masyarakat luas. Dan untuk bonusnya diadakan kesempatan homestay di tiga negara yaitu Jepang, Australia dan Belanda, pungkas Dyah.

Pages